Masalah kesehatan: Kematian Ibu di kabupaten Sumba Tengah

KEBIJAKAN KESEHATAN

Masalah Kesehatan di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur:  kematian Ibu


Kematian  ibu merupakan  masalah kesehatan dikarenakan jumlah angka kematian ibu  menjadi indikator penting keberhasilan  dalam mengukur tingkat pembangunan pada sektor kesehatan pembangunan sektor kesehatan yang mengacu pada jumlah kematian Ibu terkait proses kehamilan, persalinan dan nifas. Jumlah  angka kematian ibu di kabupaten Sumba Tengah menggambarkan  derajad kesehatan masyarakat  Sumba Tengah. 
WHO mencatat banyaknya kematian ibu melahirkan disebabkan  karena rendahnya tingkat pendidikan.. kebanyakan masyarakat  masih memegang budaya daerahnya masing-masing, dan salah satunya adalah budaya melahirkan di dukun yang tidak terlatih serta fasilitasnya yang  tidak steril. Akibatnya timbul  komplikasi melahirkan serta infeksi menjadi penyebab kematian ibu.
Berdasarkan data dari departemen kesehatan bahwa tiga faktor utama penyebab kematian ibu melahirkan yakni: pendarahan, hipertensi saat hamil atau pre eklamasi dan infeksi. Pendarahan menempati persentase tertinggi penyebab kematian ibu (28%), anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya pendarahan dan infeksi yang merupakan faktor kematian utama ibu (Fibriana, 2007 ; Herawati, 2011). Walaupun seorang perempuan bertahan hidup setelah mengalami pendarahan pasca persalinan, namun ia akan menderita akibat kekurangan darah yang berat (anemia berat) dan akan mengalami masalah kesehatan yang berkepanjangan (WHO, 2010). Persentase tertinggi kedua penyebab kematian ibu yang adalah eklamsia (24%), kejang bisa terjadi pada pasien dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol saat persalinan. Hipertensi dapat terjadi karena kehamilan, dan akan kembali normal bila kehamilan sudah berakhir. Namun ada juga yang tidak kembali normal setelah bayi lahir. Kondisi ini akan menjadi lebih berat bila hipertensi sudah diderita ibu sebelum hamil. (Profil Kesehatan Indonesia, 2007), sedangkan persentase tertinggi ketiga penyebab kematian ibu melahirkan adalah infeksi 11% (Bazaar, Azhari, 2012)
Kabupaten Sumba Tengah memiliki jumlah penduduk sebanyak 67.372 jiwa dengan 65 desa. Kabupaten Sumba Tengah memiliki 65 desa dengan jumlah desa yang melaksanakan P4K sebanyak 65 desa dan 2 unit rumah tunggu. Sarana Puskesmas yang tersedia totalnya 8, dimana dokter yang tersedia  13 orang, Puskesmas rawat inap terdiri dari 8 PKM rawat inap dan 3 PKM mampu PONED. Tenaga bidan yang tersedia berjumlah total 118 orang dengan rincian tenaga bidan koordinator 6 orang, bidan desa 50 orang, bidan desa yang telah APN 27 orang, bidan mampu GDON 12 orang, bidan punya Kit 31 orang dan bidan tinggal di desa 50 orang. Tenaga dukun berjumlah 325  orang, yang bermitra dengan tenaga bidan 204 orang (DINKES Prop NTT, 2014).
Menurut WHO dukun masih tetap dipercaya bahwa sebagai pilihan masyarakat karena  adanya kepercayaan dan budaya, mahalnya biaya kesehatan  juga merupakan salah satu alasan utama masyarakat memilih melahirkan dibantu oleh dukun. 

Formulasi 
Untuk mengatasi masalah kesehatan ini,  pemerintah harus melakukan  program pembangunan  fasilitas kesehatan yang memadai, diiringi  dengan peningkatan kualitas pelayanannya, membangun akses jalan untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat, meningkatkan jumlah tenaga kesehatan yang memadai di setiap wilayah, dan menciptakan pola keanekaragaman makanan untuk gizi ibu hamil serta menggerakkan tenaga kesehatan  mengadakan kunjungan ke setiap rumah tangga untuk memberikan arahan dalam menambah pengetahuan tentang kesehatan ibu. Program  yang dapat digiatkan tenaga kesehatan yaitu program KB  dan program Revolusi KIA untuk menurunkan angka kematian ibu. 


Evaluasi 
Kebijakan  pemerintah kabupaten Sumba Tengah  dalam menanggulangi masalah kesehatan kematian ibu adalah dengan membangun fasilitas kesehatan  yang memadai sesuai dengan Revolusi KIA provinsi NTT dimana semua ibu melahirkan di Fasiitas Kesehatan yang memadai yang capaian indikator antaranya adalah menurunnya peran dukun dalam menolong persalinan atau meningkatkan peran tenaga kesehatan terampil dalam menolong persalinan. Pelaksanaan Program KB  untuk memastikan bahwa baik individu maupun pasangan memiliki akses terhadap informasi, dan layanan keluarga berencana untuk merencanakan waktu, jumlah, dan jarak kehamilan. Program KB dapat menekan jumlah kematian ibu. Peserta KB aktif di kabupaten Sumba Tengah tahun  2015 sebanyak 28,3 % meningkat pada tahun 2017 sebanyak 74,4%.

Hasil:
Menurut laporan Dinas Kesehatan Propinsi NTT (2014), Kabupaten Sumba Tengah dan Kota Kupang memiliki jumlah kematian ibu terendah sedangkan jumlah kematian ibu tertinggi terdapat di Kabupaten Sumba Timur. Sumba tengah tercatat tahun 2014 memiliki jumlah kematian ibu sebanyak 2 orang dengan rincian, 1 orang meninggal karena abortus dan 1 orang dengan keterangan lain-lain ( DINKES Prop. NTT, 2014). 
Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota se-Provinsi NTT (2014) melaporkan bahwa konversi AKI per 100 ribu Kelahiran Hidup selama periode 4 (empat) tahun (Tahun 2011 – 2014) mengalami penurunan. Jumlah kasus kematian ibu pada tahun 2011 sebesar 208 atau 220 per 100 ribu KH, pada tahun 2012 menurun menjadi 192 atau 200 per 100 ribu KH, pada tahun 2013 menurun menjadi 176 atau 185,6 per 100.000 KH, selanjutnya pada tahun 2014 menurun lagi menjadi 158 kasus atau 169 per 100 ribu KH. 


Kasus kematian Ibu dari tahun 2014-2017 mengalami penurunan dimana pada tahun 2014 jumlah kasus kematian ibu berjumlah 158 kasus  atau 169 per 100 ribu KH   menurun pada tahun 2015 menjadi 178 kasus atau 163 per 100 KH,  pada tahun 2016 menurun menjadi sebesar 177  kasus atau 131 per 100 ribu KH dan pada tahun 2017 menurun lagi menjadi  163 kasus atau 120 per 100 ribu KH. 
  

Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam  Resolusi KIA di provinsi NTT berjalan dengan baik terkhususnya  kabupaten Sumba Tengah mengalami  jumlah kematian Ibu terendah  dimana pada tahun 2014 memiliki jumlah kematian ibu sebanyak 2 orang dengan rincian, 1 orang meninggal karena abortus dan 1 orang dengan keterangan lain-lain ( DINKES Prop. NTT, 2014),   tahun 2015 sebanyak 2 orang, 1 orang pada masa kehamilan >35 tahun, 1 orang pada masa bersalin umur >35 tahun (  profil kesehatan kabupaten/kota provinsi NTT tahun 2015) dan pada tahun 2017 dengan jumlah penduduk sebanyak 70. 719  jiwa tercatat jumlah kematian ibu  2 pada masa persalinan di usia >35 tahun  (  profil kesehatan kabupaten/kota provinsi NTT tahun 2017). Program KB di Kabupaten Sumba Tengah mengalami peningkatan jumlah  Peserta KB aktif  tahun  2015 sebanyak 28,3 % meningkat pada tahun 2017 sebanyak 74,4%.




Referensi :
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia .2015.Profil kesehatan kabupaten/kota provinsi NTT
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia .2017.Profil kesehatan kabupaten/kota provinsi NTT
Laloba, Yostan Absalom. 2017. Analisis kematian Ibu di kabupaten Sumba Tengah, NTT. Diakses pada tanggal 1 mei 2019 di https://m.katadata.co.id/analisisdata/2017/05/11/analisis-kematian-ibu-di-kabupaten-sumba-tengah-ntt 


Tugas Administrasi & Kebijakan Kesehatan

 Oleh:
Yersintha Trisanlia Katarina (1807010287)
Maria Matildis Rambu Piga (1807010285)
Mahasiswi jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat angkatan 2018 kelas A semester II




Komentar